Powered By Blogger

Selasa, 02 Februari 2010

WAHYU DALAM TIMBANGAN AKAL


Bismillah
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan ini kita senantiasa membutuhkan pembimbing yang mempunyai otoritas lebih dari kita. Allah swt sebagai pencipta dan pengelola semesta ini, mustahil membiarkan umat manusia berjalan tanpa bimbingan. Jika kita mau dengan jernih melihat persoalan ini, maka akan tampaklah dengan nyata bahwa wahyu merupakan pembimbing yang diberikan Allah swt kepada umat manusia sebagai sandingan bagi akal.

Wahyu sebagai sumber petunjuk telah dibuktikan dalam koridor filsafat dan sains. Sederetan para filosof papan atas, seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Massarah, Ibnu Thufai, Ibnu Rusyd, dan Mulla Sadra telah menuangkan pikiran mereka untuk membuktikan jembatan emas antara wahyu dan akal. Selain itu, jika kita mengkaji tafsir al-Quran, maka penafsiran juga dilakukan dengan menggunakan ra’yu. Hal ini menunjukkan bahwa akal mengakui otoritas wahyu sebagai pedoman kehidupan dan petunjuk pengetahuan.

Allamah Thabathabai menegaskan bahwa dengan akal manusia bisa memperoleh gagasan tentang apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang bermanfaat dan apa yang merusak bagi dirinya sendiri, Tetapi, kecenderungan hawa nafsu sering mengelabui akal. Kenyataan ini menunjukkan bahwa bimbingan ilahi harus diberikan melalui sarana tambahan selain akal, suatu sarana yang sepenuhnya bebas dari kesalahan...cara ini adalah kenabian. Lewat kenabian, Tuhan Yang Maha Tinggi mengajarkan perintah-perintah-Nya kepada salah seorang hamba-Nya melalui wahyu. “

Abu Ali Ibnu Sina saat bicara tentang kenabian menyatakan bahwa Para Nabi adalah manusia sempurna yang mengaktualkan langsung akalnya secara sempurna. Mereka adalah puncak kesempurnaan manusia dan seluruh wujud makhluk bahkan menguasainya. Wahyu kata Ibnu Sina adalah bentuk pancaran, dan malaikat adalah kekuatan yang memancarkan, yang diterima oleh para nabi dan yang turun kepada mereka secara terjaga disebabkan kekhususan para penerimanya. Jadi kerasulan adalah bagian dari pancaran itu yang dinamakan wahyu, yang diterima dalam berbagai bentuk ekspresi untuk kepentingan umat manusia. Rasul adalah orang yang menyampaikan apa yang ia peroleh dari pancaran yang disebut wahyu, sekali lagi dalam bentuk ekspresi apapun yang dianggap terbaik, agar dengan ajaran-ajaranya itu bisa dihasilkan adanya perbaikan dalam alam indera melalui politik, dan alam intelektual dalam ilmu pengetahuan.”

Al-Farabi, filosof yang mendahului Ibnu Sina ketika menjelaskan tentang wahyu menyatakan bahwa ketika seorang nabi menerima wahyu, setidaknya ada tiga jenis akal yang dilibatkan yaitu akal aktif, akal mustafad (akal perolehan), dan akal pasif (al-aql al-munfail).

Mulla Shadra menggambarkan proses penerimaan wahyu sebagai berikut : "Perbincangan antara manusia dan Allah, perolehan pengetahuan dari-Nya adalah perbincangan tertinggi dan puncak perolehan. Dalam perbincangan ini, Nabi saaw mendengar kalam ilahi dan perbincangan suci dari Allah melalui pendengaran hati dan batin. kalam Allah adalah pemberian ilmu dan hakikat pengetahuan ke dalam hati Nabi yang bercahaya."

Abdullah Darraz menulis “Apabila anda membaca al-Quran, maknanya akan jelas di hadapan anda. Tetapi apabila anda membacanya sekali lagi, maka anda akan menemukan pula makna lain yang berbeda dengan makna-makna terdahulu. Demikian seterusnya, sampai-sampai (anda) menemukan kalimat atau kata-kata yang mempunyai arti bermacam-macam , semuanya benar atau mungkin benar... (ayat-ayat al-Quran) bagaikan intan, setiap sudutnya memencarkan cahaya yang berbeda dengan cahaya yang memancar dari sudut-sudut lain... dan tidak mustahil jika anda mempersilahkan orang lain untuk memandangnya, maka dia akan melihat lebih banyak daripada yang anda lihat.”

Komentar-komentar ini ingin menunjukkan bahwa al-Quran adalah wahyu ilahi yang diturunkan kepada manusia untuk menjadi petunjuk dan pedoman dalam menggeluti kehidupan ini dalam berbagai aspeknya. Al-Quran adalah kitab yang bebas dibaca siapapun, dalam kapasitas akal bagaimanapun, dan ahli dalam bidang apapun. wallahu a'lam (CaRe. Medan, 06 Ramadhan 1430 H)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar